Musim kemarau tiba, anak-anak ingin main sepeda. Maka, sore itu saya keluarkan sepeda mereka yang sudah nganggur di
gudang selama beberapa bulan
terakhir. Kedua sepeda kempes bannya,
mesti dibawa ke bengkel dulu.
‘’Mau dibawa ke mana, Pak?’’ tanya tetangga sebelah, melihat
saya hendak menuntun sepeda Saffana sambil naik motor.
‘’Ini Pak, mau benerin
ban sepeda,’’ jawab saya.
‘’O, saya punya pompa Pak, kalau cuman kempes
dipompa aja,’’
tetangga menawarkan budi baik.
‘’Kayaknya nggak cuman kempes nih,
soalnya pernah dipompa
terus kempes lagi,’’ sahut saya, sambil menuntun sepeda dengan
tangan kiri dan mengendarai motor dengan tangan kanan.
Saffana masih
sempat bertanya, ‘’Saffana nggak ikut Pah?’’
‘’Nggak usah, Papa bawa sepeda nih, biar nggak
berat,’’ kata saya.
‘’Emang bisa Pah, naik motor sambil bawa sepeda?’’ celoteh dia.
‘’Insya Allah, dulu
kan Papa sering begini.’’
‘’Ati-ati ya Pah.’’
‘’Siaaap.’’
Maka, berangkatlah saya ke bengkel di dekat gerbang
perumahan. Awalnya terasa berat, naik motor sambil nuntun sepeda. Soalnya,
sudah lama nggak pernah membawa sepeda dengan cara ndeso seperti ini. Dulu sih, sering
menggowes sepeda sambil menuntun sepeda satu lagi yang bocor bannya
untuk ditambal di bengkel.
Setelah berkendara
sekitar 500 meter dari
rumah, sampailah saya di tukang tambal ban sekaligus reparasi sepeda. Tampak di depan kios
kecilnya, berderet sejumlah sepeda bekas yang hendak dijual.
‘’Permisi, Pak,’’ salam saya pada tukang bengkel.
‘’O ya, bisa dibantu,’’ sahut pria berpenampilan sederhana itu ramah.
‘’Ini, mau benerin ban, udah
lama nggak dipake, jadi kempes. Kira-kira bannya
bocor nggak ya Pak?’’ saya menerangkan.
Si
Bapak melihat-lihat sekilas ban sepeda Saffana. ‘’Oh,’’ katanya, ‘’ini mah nggak
bocor, cuman kempes aja.’’
‘’Tapi udah
lama Pak nggak dipake,
mungkin bocor. Soalnya, dulu juga pernah
dipompa terus kempes lagi.’’
‘’Udah lebih dari 2
bulan belum, nggak dipakainya?’’
‘’Lebih, Pak.’’
‘’Kalau gitu, saya bisa pastikan kalau bannya nggak
bocor. Soalnya nggak
kempes banget
nih, masih ada anginnya dikit. Kalau bocor pasti udah
kempes abis. Kan saya
dokter sepeda, he he he,’’ terang tukang bengkel sambil
berkelakar.
‘’Percaya,
Pak. Ya sudah berarti cukup dipompa aja
ya Pak.’’
‘’Iya, dipompa aja (ban) depan-belakang, cukup. Kalau nggak dipakai dan ban sepeda
kedinginan, anginnya emang kabur,
he he he,’’
bercanda dia.
Sebentar
kemudian, cess, cess, cesss, kelar deh.
‘’Ini, udah selesai, Pak,’’ kata tukang bengkel sambil
menyerahkan sepeda yang siap dinaiki.
Sesuai
‘’harga pasaran’’, untuk jasa tambah angin dari kompresor Rp 1000/ban maka saya
angsurkan kepadanya selembar uang Rp 2000. ‘’Nih,
Pak, makasih banyak ya,’’ kata saya.
‘’Sama-sama,’’
katanya sambil menerima uang itu.
Eh,
lha kok uang bukannya
dikantongi, tapi dia selipkan ke lubang
kotak kayu mirip kotak amal yang ditaruh
tepat di atas mesin kompresornya.
Wah, saya jadi kepikiran nih. Kayaknya
kurang ya, sehingga dia ‘’buang’’ ke kotak amal aja uang
tersebut.
Dalam
perjalanan pulang,
saya merasa bersalah. Semestinya mungkin harus memberi lebih dari Rp 2000,
karena jasa dia bukan sekadar menambah angin tapi juga menganalisa kondisi ban sehingga nggak perlu ditambal
apalagi ganti ban dalam[1].
Saya sampai kepikiran kata-katanya ‘’Kan
saya dokter sepeda’’. Saya membandingkan, setiap
mendiagnosa pasien, dokter manusia
akan tetap menerima bayaran yang cukup gede, walaupun si pasien tidak sakit
apa-apa. Jadi, saya merasa bersalah, telah memberi terlalu sedikit, sehingga uang dari saya ‘’hanya’’ dimasukkan ke kotak amal[2].
Sampai di depan rumah, Saffana
langsung menyambut sepedanya dengan hati berbunga.
‘’Horee,
lho Pah kok cepet banget nambalnya,’’ seru dia.
‘’Iya, kata tukang tambal ban, nggak bocor
jadi cuman dipompa.’’
‘’Ooo.’’
Langsung saja,
Saffana menggowes sepedanya muter-muter komplek. Senengnya dia, karena sudah lama nggak
naik sepeda. Dia pun sudah
janjian sama temannya untuk bersepeda ke mushola buat sholat maghrib nanti.
Satu lagi sepeda Pixy
milik Fatih juga kempes, tapi nggak banget-banget. Maka saya ajak Fatih ke tukang tambal ban dengan
menaiki sepedanya, mengikuti papanya
yang naik motor pelan-pelan.
[1] Dari
hasil penelusuran seorang teman wartawan, ternyata ada tukang tambal ban yang curang.
Bak air yang digunakan si tukang tambal ban untuk memeriksa kebocoran ban dalam,
umumnya berisi air keruh dan kecoklatan. Ternyata, itu untuk menutupi ulah
curang si tukang tambal ban. Mereka menyimpan paku atau benda tajam lain di bak
tersebut, yang akan digunakan untuk menjahili ban dalam konsumen sehingga bocor
berat dan harus ganti ban di situ juga.
[2] Lucu ya, uang Rp. 50,000-an
kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal Masjid atau Musholla, tapi
begitu kecil bila kita bawa ke Supermarket. Lucu ya, 45 menit terasa terlalu
lama untuk berdzikir, tapi betapa singkatnya waktu itu untuk pertandingan
sepakbola. Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi betapa cepatnya
2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film bioskop. Lucu ya, susah merangkai
kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat, tetapi betapa mudahnya mencari
bahan obrolan bila ketemu teman. Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu
dipertandingan bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih
bulan Ramadhan kelamaan bacaannya. Lucu ya, orang-orang berebut paling depan
untuk nonton bola atau konser, dan berebut saf paling belakang bila Jum’atan
agar bisa cepat keluar. Lucu ya, kita perlu undangan pengajian 3 ~ 4 minggu
sebelumnya agar bisa disiapkan diagenda kita, tapi untuk acara lain jadwal kita
gampang diubah seketika.Lucu ya, susahnya orang mengajak partisipasi untuk
dakwah, tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gossip. Lucu ya, kita
begitu percaya pada yang dikatakan Koran atau TV, tapi kita sering mempertanyakan
apa yang dikatakan Al-Qur’an. Lucu ya, semua orang penginnya masuk Surga tanpa
harus beriman, berpikir, berbicara, ataupun melakukan apa-apa. Lucu ya, kita
bisa ngirim ribuan jokes lewat E-mail, tapi bila ngirim yang berkaitan dengan
ibadah sering mesti berpikir dua kali (anonymous).
02.09
Unknown
Posted in: 







0 komentar:
Posting Komentar